Tampilkan postingan dengan label Usaha Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Usaha Peternakan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2012

Kemitraan Menjamin Keberlangsungan Usaha Peternak

Harga pakan kian melambung, tapi harga jual ayam tak jua membubung. Lantas, dengan pola bisnis yang bagaimana agar usaha peternakan terus bergulir dan meraup untung?

Para pelaku usaha mafhum, bisnis ayam ras pedaging penuh ketidakpastian lantaran harga hasil panennya naik turun. Kemarin boleh jadi meraup untung segunung, tapi besoknya bisa jadi malah buntung.
“Bisnis ayam ras (pedaging) itu 70% gambling. Sebab, setelah dipelihara 35 hari, tidak seorang pun tahu harga jualnya berapa,” komentar H. Ajat Darajat, pemilik Naratas Poultry Shop di Cikoneng, Ciamis, Jabar, yang menjalin kemitraan dengan 854 peternak. Walau begitu, selama 27 tahun, ia tetap eksis menjalankan roda bisnis perunggasan. Pasalnya, ia memiliki jurus agar usahanya menguntungkan (baca juga: H. Ajat Darajat, Benteng Peternak Rakyat Kecil).
Diakui banyak pihak, semenjak krisis moneter 1998, ditambah merebaknya wabah flu burung pada 2002, sampai sekarang kondisi bisnis ayam ras masih samar-samar. “Kondisi bisnis saat ini mirip saat krisis. Bedanya, kalau dulu berimbas pada semua sektor, sekarang lebih ke unggas,” ucap Darmansyah, Vice Presiden PT Inter Agro Prospek (grup PT Charoen Pokhand Indonesia).
Hari Wibowo, Ketua Umum Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo), membenarkan, kondisi usaha ayam ras sekarang lebih kritis. Hal ini dipicu oleh banyaknya bencana alam sehingga ayam yang belum cukup umur untuk dipanen harus segera keluar kandang. Yang terjadi kemudian, pasar kelebihan pasokan. Kejadian itu berbarengan pula dengan datangnya bulan Suro (tidak banyak pesta), sehingga permintaannya menurun. Harga ayam pun melorot.
Pendapat serupa dilontarkan Ajat. “Dari pengalaman selama ini, setiap Januari—Maret, bisnis ayam lesu. Kejadian ini merupakan siklus tahunan,” jelasnya. Hanya saja, saat ini diperparah dengan melambungnya harga pakan, akibat terus meroketnya harga bahan baku pakan yang diimpor.
Minggu pertama Januari, menurut pengakuan Hari, harga pokok produksi (HPP) rata-rata Rp8.600/kg. Perhitungan Ajat, HPP di Priangan Timur, Jabar, sudah menembus Rp10.350/ekor. Sementara di Bogor, Jabar, menurut catatan Tri Hardiyanto, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Andalan Nasional (Gopan), HPP berkisar Rp10.500—Rp11.000 untuk ayam berbobot 1,4—1,5 kg/ekor. Tapi secara umum, peternak menghitung biaya produksi dengan rumus: 2 kg pakan ditambah harga DOC (anak ayam umur sehari). Kala itu, harga pakan Rp4.100—Rp4.300/kg. Sementara DOC sekitar Rp200—Rp1.750/ekor.
Di lain pihak, harga jual ayam di tingkat peternak tidak bisa serta-merta didongkrak. Pada kurun waktu yang sama, harga ayam potong di tingkat peternak berkisar Rp6.500—Rp8.200/kg. Praktis, peternak berada dalam kondisi serba sulit. Mau tetap beternak, jangan-jangan kerugian bertambah. Mau berhenti beternak dan pindah ke usaha lain, belum tentu berhasil, sebab keahlian mereka terbatas di bidang peternakan ayam.

Nasib Peternak Mandiri
Ada tiga tipe peternak ayam pedaging di tanah air, yaitu kemitraan, mandiri, dan komersial farm yang dimiliki pabrikan (industri). Pelaksana kemitraan (inti) adalah industri seperti gGrup Japfa, Charoen Pokphand (CP), CJ Feed, Sierad Produce, Wonokoyo, poultry shop (PS), maupun pribadi pemilik modal besar. Peternak kemitraan tidak membeli sapronak dan tidak memasarkan hasil panen sendiri. Mereka memperoleh penghasilan atas dasar kesepakatan dengan inti.
Sementara peternak mandiri adalah mereka yang membeli sapronak dari pabrikan dan menjual hasil panen sendiri sehingga untung maupun rugi ditanggung sendiri.
Menurut Tri Hardiyanto, kondisi bisnis seperti sekarang sangat memberatkan peternak mandiri. Apalagi modalnya pas-pasan. Sebab, untung rugi tidak bisa dihitung hanya dari satu periode pemeliharaan. Tapi dibutuhkan 3—4 periode produksi guna melakukan evaluasinya. Bahkan, menurut Ajat, lantaran iklim bisnis sudah berubah, untung rugi baru bisa dihitung dalam siklus 3 tahunan.
Namun, Lucky Ranti, pemilik PS di Tangerang, Banten, berpendapat lain. Menurut pria yang sudah merintis PS sejak 1992 dan mulai beternak pada tahun 2000 itu, jika mempunyai cukup modal, berusaha sendiri (mandiri) akan lebih menguntungkan. Sebab, mata rantai usahanya lebih pendek. Sementara pada kemitraan, lanjut dia, semua sisi (pakan, DOC, dan obat-obatan) inti mengambil untung sehingga marginnya tipis.
Namun, menurut pengalaman H. Idung, peternak di Desa Tapos, Kec. Tenjo, Bogor, peternak mandiri menghadapi risiko besar. “Sebelum memilih kemitraan, saya berusaha sendiri. Namun untuk memasarkan 500—1.000 ekor saja saya bingung. Apalagi dalam kondisi bisnis perunggasan seperti saat ini. Sekarang banyak peternak mandiri bingung karena terlibat utang. Ditambah lagi piutang di agen-agen di pasar belum lunas, peternak sudah kembali panen. Kejadian itu terus berantai,” paparnya.

Saling Menguntungkan
Menurut Achmad Dawami, Senior Vice President PT Primatama KaryaPersada (grup Japfa), untuk menyikapi iklim bisnis saat ini, peternak lebih baik bermitra. Pasalnya, biaya produksi mahal akibat harga pakan meningkat terus. Sementara harga jual ayam elastisitasnya tinggi. “Dengan bermitra, modal dan sarana produksi, serta pasar, dijamin inti,” jelasnya.
Tanpa mengesampingkan pola mandiri, tampaknya sistem kemitraan menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan bisnis dalam budidaya ayam ras saat ini. Apalagi, menurut Heri Setiawan,  Communication Manager PT Wonokoyo Jaya Corporindo di Surabaya, Jatim, sebagian besar peternak ayam ras adalah peternak rakyat kecil. Mereka memiliki keterbatasan dalam banyak hal seperti modal, teknologi, maupun sumber daya. Di lain pihak, inti khususnya pabrikan memiliki kelebihan di bidang tersebut.
Tjeppy D. Soedjana, Dirjen Peternakan, Deptan, menegaskan, kemitraan perunggasan mempunyai tujuan utama untuk saling berbagi sumber daya dalam mengoptimalkan nilai tambah dari input, proses produksi, maupun output. Kemitraan tersebut dibutuhkan oleh perusahaan besar (penyandang modal besar) karena dapat berperan sebagai pasar sapronak dan berbagi risiko. “Prinsip share in resources and benefit tersebut dapat meningkatkan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak yang bermitra,” ujarnya.
Dawami menambahkan, win-win solution bukan berarti segala sesuatunya dibagi rata. Namun, “Wajar seandainya pada saat harga ayam potong hancur, si mitra tidak mengalami kerugian. Demikian pula ketika harga tinggi, si mitra juga bisa menikmati sesuai porsi masing-masing,” urai Dawami. Walaupun pembagian risiko, terutama pasar, akan dihadapi oleh inti.
Melalui kemitraan, paling tidak peternak plasma mempunyai kepastian usaha 5—6 kali dalam setahun. Soal perolehan keuntungan, tergantung model kemitraan mana yang dipilih dan indeks prestasi yang dihasilkan peternak selama memelihara ayam.

Lebih Nyaman
Manfaat bermitra sudah banyak dirasakan para peternak yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, NTB, dan Sulawesi. Indikasinya, dari 2,5 juta peternak ayam ras saat ini, 70%—90% adalah peternak kemitraan. “Padahal, sampai dengan 1997, sebelum krisis, peternak ayam ras didominasi oleh peternak mandiri. Peternak yang bermitra hanya sekitar 20%,” papar Dawami.
Contoh peternak mitra (plasma) adalah Iwan di Desa Ciherang, Kec. Linggasari, Ciamis. Pada 1997 ia memutuskan untuk beternak ayam ras. Tapi modalnya hanya cukup untuk membangun kandang. Oleh sebab itu ia memilih menjadi peternak mitra Naratas PS.
“Dengan bermitra, usaha lebih nyaman, lantaran nyaris tanpa risiko kerugian. Saya pun tidak pusing dengan kontinuitas pasokan sapronak maupun pemasaran karena dijamin inti,” aku Iwan, yang saat ditemui ia memelihara 1.500 ekor broiler per siklus. Bahkan, lanjut dia, plasma tidak peduli terhadap melambungnya harga sapronak maupun anjloknya harga hasil panen. Peternak hanya terfokus terhadap budidaya untuk berlomba menghasilkan indeks prestasi pemeliharaan (IP) yang tinggi. Sebagai peternak kecil, Iwan bersyukur, setiap periode masih mengantongi keuntungan rata-rata Rp1.000/ekor.
Contoh lain adalah Maman Surachman, peternak di Sindang Heula, Serang, Banten, yang bermitra dengan PT Super Unggas Jaya (SUJA), grup CJ Feed. Ketika ditemui AGRINA sebelum Idul Fitri tahun lalu, ia memelihara 5.000 ekor broiler per siklus. Maman mengaku, setelah dipotong biaya produksi, ia masih mendapat keuntungan bersih Rp6 juta—7 juta/periode.
Pun Agus Saefulloh yang bermitra dengan PT Tunas Mekar Farm (TMF) di Bogor, Jabar. Saat ditemui November tahun lalu, dari populasi 10.000, ia mengaku kebagian untung bersih Rp4 juta—Rp5 juta/periode.
Demikian halnya dengan H. Idung. Setelah 6 tahun gonta-ganti mitra, sejak 2007 ia bergabung dengan PT Prima Karya Persada (PKP). Dari populasi 11.000 ekor broiler, setiap periode ia meraih keuntungan bersih rata-rata Rp4,4 juta. Jumlah itu diperoleh dari hasil penjualan produksi 16 ton, ditambah insentif (baca juga: Biar Nggak Buntung, Mendingan Bermitra)

Beragam Model
Secara umum, kemitraan ayam ras pedaging di tanah air terbagi menjadi 3 sistem: bagi hasil, harga kontrak, dan manajemen fee atau makloon (lihat boks). Meskipun dasar perhitungan laba rugi dalam sistem kemitraan tersebut adalah IP, tapi pola kemitraan yang diterapkan inti bermacam-macam. Persyaratannya pun beragam. Namun yang pasti, di setiap kantong peternak kemitraan, polanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan budaya.
Menurut Dawami, pola kemitraan yang diterapkan PKP tergantung daerah peternak masing-masing, ada sistem kontrak, ada pula bagi hasil. Di Kecamatan Tenjo, Bogor, misalnya, menerapkan sistem bagi hasil karena kondisi alamnya kurang mendukung untuk pemeliharaan ayam besar.
Soal skala usaha plasma, di PKP rata-rata 5.000 ekor/peternak agar mereka memperoleh keuntungan Rp4 juta—Rp5 juta/siklus. Namun di luar Jawa ada juga yang 2.000 ekor/peternak. Syarat lainnya adalah agunan, berupa personal garansi atau bentuk lainnya, plus nota kesepahaman. Dengan menerapkan dua model kemitraan, sejak 1995 sampai sekarang PKP sudah menggandeng ribuan peternak yang terkonsentrasi di Sumatera dan Jawa.
Sistem kemitraan di Grup CP yang dibangun mulai 1987, lebih ke harga kontrak. Skala usaha plasma minimal 5.000 ekor/peternak, plus agunan sekitar 10% dari nilai sapronak dan surat perjanjian. Dengan pola semacam itu, Darmansyah mengakui, kini pihaknya mampu merektut ribuan peternak yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusatenggara Barat.
Demikian juga sistem kemitraan yang dilakukan Wonokoyo. Menurut Heri, sistem dan persayaratan yang diterapkan hampir sama dengan pabrikan lain. Hanya saja skala usaha plasma minimal 10.000 ekor/peternak. Kemitraan itu sudah diterapkan sejak 1999, tapi masih terbatas di Jawa, khususnya Jatim.
Kemitraan harga kontrak juga diterapkan di TMF sejak 2004. Menurut Muslikhin Irmat, Pimpinan TMF, dengan skala usaha 5.000 ekor/plasma, TMP sudah menjaring 150 peternak.
Lain halnya dengan CJ Feed. Menurut Paulus Widanarko, General Manager Produk Unit Bisnis Kemitraan SUJA, sistem kemitraan yang baru dilakukan selama 1,5 tahun dengan menerapkan tiga pola. Namun, dari ratusan peternak yang sudah bergabung, lebih banyak memilih sistem kontrak. Skala usaha peternak mitra di SUJA minimal 4.000 ekor/peternak. Syarat lainnya, tak jauh beda dengan PKP maupun CP. Peternak plasmanya kini baru ada di Banten dan Jabar.
Sistem harga kontrak dan bagi hasil, dianut juga oleh Kelompok Duta Technovet (KDT) di Yogyakarta, yang diketuai Hari Wibowo. Hingga kini KDT sudah menjalin dengan 600 peternak di Gunung Kidul, Sleman, Bantul, dan Kulonprogo, semuanya masih di Provinsi DIY.
Apapun model yang dipilih, bila kedua belah pihak menjalankan hak dan kewajiban masing-masing dengan benar, kemitraan akan mendatangkan keuntungan. Buktinya, di Thailand, Filipina, Malaysia, dan Amerika, kemitraan bisa berjalan mulus, walaupun dengan sistem berbeda.
Dadang WI, Enny Purbani, Yan Suhendar, Selamet R., Ryan (Yogyakarta), Indah Retno Palupi (Surabaya)

Garis Besar Pola Kemitraan
Kemitraan harga kontrak:
o      Tidak peduli harga ayam di pasar seperti apa (harga mengikat)
o      Kerugian ditanggung peternak (kekeluargaan). Tapi kalau terjadi musibah alam atau wabah penyakit, kerugian ditanggung inti. Sebaliknya, jika akibat keteledoran peternak, kerugian ditanggung plasma.
Kemitraan bagi hasil:
o        Harga pokok/sapronak terbuka, alias ditentukan di muka.
o        Kerugian ditanggung bersama.
o       Harga panen tergantung pasar. Tapi inti menjamin plasma tetap mendapat keuntungan
 Kemitraan makloon:
-          Biaya operasional dihitung inti
-          Kerugian ditanggung inti
-          Harga panen mengikuti pasar

sumber : http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=7&aid=1177

Kamis, 16 Februari 2012

Koperasi Kelinci Pertama di Indonesia

Bergabung dalam koperasi supaya tidak dimainkan tengkulak. 

Komoditas ternak kelinci sebagai alternatif penghasil protein hewani kini kian digandrungi masyarakat. Alhasil sentra-sentra peternakan di berbagai daerah kelinci mulai banyak berkembang. Sayangnya peternakan yang ada umumnya masih skala kecil yang membuat posisi tawar peternak kelinci lemah sehingga acap kali harga jual kelinci dimainkan para tengkulak.
Kondisi ini sempat dialami Jefry Pakpahan seorang peternak kelinci hias asal CiapusBogorJawa Barat. Iamengatakan,selama ini pola pemasarankelinci hasil ternaknya masih melaluitengkulak atau pembeli yang datang langsung.Jefry beralasan memilih menjual ke tengkulak karena ada kepastian pembelian meski dengan harga rendah.
Peternak yang memelihara sekitar250 ekor kelinci hias inipun coba mengubah keadaan tersebut dengan bergabung Kopnakci (Koperasi Peternak Kelinci) di daerah Bogor. Jefry berharap dengan menjadi anggota Kopnakci dapat terbantu pemasaranhasil ternaknya. “Dengan mensuplai langsung  kepada koperasisaya harap hargajual bisalebih baik,” ujarnya kepada TROBOS.
Jefry menyebutkan keuntungan menjadi anggota koperasi adalah bisa bertukar pikiran antar peternak terhadap kendala beternak kelinci. “Harapan saya , koperasi dapat menimbulkan minat buat anggotanya maju. Lalu, akhirnya mempunyai efek domino terhadap masyarakat sekitar bahwa beternak kelinci sangat menguntungkan,” ungkap pria asal Sumatera Utara ini.

Pembentukan Koperasi
Menurut Ketua Kopnakci, Wahyu Darsono, untuk mencapai skala usaha ekonomis dan kapasitas produksi usaha peternakan kelinci yang besar diperlukan wadah dalam menjalankan kegiatan usaha sebagai pusat informasi, akses pemasaran dan pembinaan kelembagaan usaha ternak kelinci. “Koperasi merupakan wadah yang tepat,” tuturnya.
Wahyu menjelaskan,cikal bakal pembentukan Kopnakci dimulai dari keinginan para SMD (Sarjana Membangun Desa) 2010 untuk mengembangkan komoditas kelinci di wilayah Kabupaten Bogor yang berjumlah sebanyak 8 kelompok dan peternak kelinci sekitar daerah Bogor.Tujuannya supaya ada wadah integrasi usaha ternak kelinci secara komprehensif sehingga mampu mendukung daya saing dalam skala ekonomis yang sesuai dengan kondisi pasar.
Lalu alasan lainnya, lanjut lulusan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, kelinci merupakan komoditi potensial sebagai penyedia sumber daging selain sebagai hewan hias. Dkemudian ada juga ada pertimbangan bahwaskala pemeliharaan ternak kelinci relatif masih skala rakyat, belum ada skala industri yang besar.
Sehingga, ketika peternak membudidayakan 1 kandang 100 ekor maka jika berkumpul dengan 20 peternak menjadi 2.000 ekor.“Dan itu bisa memenuhi kebutuhan yang cukup besar, karena sekarang pasar cukup terbuka. Terkadang kalau tidak berkumpul maka kendalanya harga tidak seragam dan akan dimainkan oleh tengkulak,” kata Wahyu.
Ia menyebutkan sampai saat ini jumlah anggota koperasi yang berdiri pada Juni 2011 ini  tercatat 80 orang. Para anggota terdiri atas 20 kelompok yang berasal dari program SMD 8 kelompok dan sisanya adalah non SMD. Rata-rata 1kelompok anggota koperasi berjumlah 3 orang, tetapi ada beberapa kelompok lebih dari 3 orang.“Karena dalam satu kelompok yang ikut koperasi biasanya Ketua, Sekretaris dan bendahara kelompok. Anggota kelompok lainnya tidak diwajibkan menjadi anggota koperasi, hanya ketika melakukan pembinaan seluruh anggotanya dapat hadir,” jelas Wahyu.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Desember 2011
http://www.trobos.com/show_article.php?rid=8&aid=3192 

Jumat, 18 November 2011

BOSAN JADI KARYAWAN? PETERNAKAN BISNIS MENJANJIKAN



 DAPATKAN BUKU-BUKU PETERNAKAN
PESAN ONLINE VIA SMS 0852.57090.372
Lihat Daftar Buku Peternakan Disini


Tak terasa juga, lama rupanya kami telah meninggalkan bangku kuliah, berarti sepanjang waktu itu pula kami telah berpisah dengan rekan-rekan yang dulunya bersama-sama menimba ilmu peternakan di fakultas peternakan Universitas Brawijaya. Kenangan manis bersama rekan semua tidak akan pernah terlupakan mulai diskusi bersama, lembur tugas bersama, praktikum, magang, praktek kerja lapang, kuliah kerja nyata, penelitian sampai main futsal bersama. Tapi semua itu tinggal kenangan tapi ada keinginan bahwa kenangan itu bisa terulang kembali. Mudah-mudahan dengan tulisan yang singkat ini kami bisa merekatkan kembali tujuan yang kita cita-citakan bersama.Rekan se-angkatan, kakak dan adik angkatan dimanapun semuanya berada, perkenankan rekanmu ini untuk menuliskan sesuatu yang mungkin masih bermanfaat bagi kita semua. Sebuah surat terbuka untuk mengajak kita semua untuk kembali ke bidang keahlian kita sebagaimana yang kita cita-citakan setelah tamat SMU. Yakin dan tatap dengan rasa optimis bahwa sektor peternakan masih cukup luas untuk dijadikan penghidupan. Bagaimana tidak, produk peternakan dibutuhkan dan dikonsumsi orang tiap harinya dan itu berarti semua sarana dan sektor yang mendukung produksi peternakan masih memiliki prospek yang bagus baik sarana produksinya, rantai pemasarannya dan pengolahan hasilnya.
Mungkin sebesar 60% bahkan bisa sampai 70% lulusan sarjana belum/tidak bekerja pada bidang yang dipelajarinya. Kami mengambil angka di atas berdasarkan data dari rekan-rekan yang sempat kami hubungi atau bertemu langsung dengan kami. Ternyata masih banyak lulusan sarjana peternakan yang bekerja di luar sektor peternakan. Di antara mereka ada yang menjadi sales perusahaan non peternakan seperti farmasi, perbankan, buka toko, dan lain sebagainya. Kebanyakan alasan yang di kemukakan adalah tidak ada modal dan lapangan kerja terbatas. Sebenarnya ndak masalah kita bekerja di mana saja akan tetapi kalau kita bekerja di atas rel atau bidang kita bukan mustahil ada kepuasan tersendiri yang menyertainya.
Kalau bicara soal modal usaha adalah hal yang sangat wajar karena setiap usaha membutuhkan modal. Akan tetapi bagaimana bentuk modal itu yang belum banyak dibicarakan oleh khalayak umum. Pernahkan rekan semua membaca buku saku yang berjudul Berwirausaha Mulai dari Nol yang ditulis oleh Andreas Harefa, di dalam buku tersebut ditampilkan beberapa contoh usahawan sukses yang memulai bisnis mereka dengan modal Rp 0,- dan hasilnya bisa anda baca sendiri? Dari dasar inilah kami mengajak kepada rekan semua khususnya rekan-rekan yang pernah mengenyam pendidikan ilmu ternak (snakma, sarjana peternakan, D-III peternakan, atau pelatihan agribisnis) mari kembali ke jalan kita dan insyaallah akan kami tuliskan bidang-bidang peternakan yang mungkin kita berkesempatan untuk mencobanya.
Sebagai gambaran untuk lebih menyakinkan rekan semua, bahwasannya produk peternakan ibarat beras di sektor pertanian. Artinya produk peternakan dibutuhkan sepanjang waktu dan sifat bendanya adalah habis dengan sekali pakai. Itu berarti berapapun jumlah yang diproduksi pasti akan terserap oleh pasar karena masyarakan kita sangat membutuhkannya. Produk peternakan dibutuhkan mulai dari mulai Balita sampai para Manula. Mari kita cermati peluang apa yang ada di sektor peternakan :
Produksi Ternak
  1. Penetasan telur unggas
  2. Penggemukan ayam kampung pedaging
  3. Penggemukan itik jantan potong (raja, tiktok, dll)
  4. Penggemukan puyuh jantan
  5. Penggemukan ayam arab jantan
  6. Penggemukan itik, layer afkir
  7. Penggemukan itik peking
  8. Penggemukan entok
  9. Penggemukan pedet
  10. Beternak itik petelur
  11. Beternak ayam broiler
  12. Beternak ayam layer
  13. Beternak ayam kampung petelur
  14. Beternak aneka ayam hias (kate, serama, walik, mutiara, dll)
  15. Beternak angsa
  16. Beternak kalkun
  17. Beternak kambing dan domba potong
  18. Beternak sapi potong
  19. Beternak sapi perah
  20. Beternak kerbau
  21. Beternak kuda
  22. Beternak kambing perah
  23. Beternak rusa
  24. Breeding farm ayam kampung
  25. Breeding farm itik dan entok
  26. Breeding farm sapi potong
  27. Breeding farm kambing dan domba
  28. Beternak burung berkicau
  29. Beternak merpati potong
  30. Budidaya walet dan seriti
  31. Budidaya ulat sutera
  32. Beternak lebah
  33. Beternak kelinci
  34. Beternak marmut
  35. Beternak hamster
  36. Beternak tikus putih
  37. Budidaya semut rangrang (kroto)
  38. Budidaya ulat hongkong
  39. Beternak jangkrik
  40. Beternak kucing hias
Pakan Ternak
  1. Industri jasa pencampuran pakan unggas
  2. Penyedia bahan baku pakan ternak
  3. Distributor pakan unggas (Poultry Shop)
  4. Produksi hijauan pakan ternak seperti rumput gajah, rumput raja, tebon jagung
  5. Pembuatan pakan konsentrat
  6. Jasa laboratorium analisa bahan pakan ternak
  7. Formulator pakan ternak (konsultan ahli)
Teknologi atau Pengolahan Hasil Ternak
  1. Pembuatan dodol susu
  2. Pembuatan krupuk susu
  3. Pembuatan susu fermentasi
  4. Pembuatan yoghurt
  5. Pembuatan keju
  6. Pembuatan susu pasteurisasi
  7. Pembuatan ice cream
  8. Pembuatan permen susu
  9. Pembuatan dadih
  10. Pembuatan susu bubuk
  11. Pembuatan nugget
  12. Pembuatan dendeng
  13. Pembuatan gepuk
  14. Pembuatan abon
  15. Pembuatan sosis ayam atau sapi
  16. Pembuatan telur asin
  17. Pengolahan kulit sapi seperti pembuatan rambak
Sosial Ekonomi Peternakan  
  1. Distributor sapronak ternak
  2. Poultry shop (toko pakan ternak)
  3. Kemitraan (inti-plasma)
  4. Distributor obat ternak
  5. Distributor jamu alami ternak
  6. Distibutor olahan hasil ternak
  7. Jasa konsultasi usaha dan produksi ternak
  8. Pengepul hasil ternak seperti telur konsumsi dan telur tetas
  9. Jasa pemotongan ternak (unggas, kambing, domba, dll)
  10. Penyedia sarana transportasi ternak
  11. ‘Maaf’ Blantik ternak
Dari sekian banyak peluang di atas maka tidak bisa dipungkiri bahwa sektor usaha peternakan masih sangat luas dan menantang kita. Pintu mana yang akan kita masuki sangat tergantung dari keahlian dan minat yang kita punya. Intinya peluang masih terbuka lebar dan kapan kita akan menangkap peluang tersebut?
Hambatan
Tak bisa dipungkiri bahwa semua bentuk usaha akan ada kendala yang menghadang. Kendala utama biasanya terletak pada modal yang terbatas. Pertanyaannya adalah apakah semua modal harus berbentuk uang? Jawabannya adalah tidak, karena kami sendiri memulai usaha tidak dengan modal akan tetapi dengan kepercayaan dan kejujuran adalah modal kami. Percayalah bahwa sikap ulet dan tidak gampang menyerah akan membuahkan hasil yang memuaskan. Dan pesan kami terakhir adalah tidak henti-hentinya berdoa kepada Sang Pemberi Rezeki, Allah subhanallahu wa ta’ala, agar selalu memberikan rezeki kepada kita berupa rezeki yang halal dan barakah. Karena hanya dari rezeki yang halal dan barakah insyaallah usaha kita akan dapat berkembang dan manuai kesuksesan. Semoga bermanfaat*(SPt)
Silahkan mengcopy isi tulisan di atas sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : sentralternak.com


GUNAKAN SEARCH ENGINE INI UNTUK MENEMUKAN ARTIKEL ANDA :
Loading
Logitech Keyboards
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...